3 Cara Menonton Film 3

Anggy Umbara menunjukkan produktivitasnya sebagai seorang sineas. Hari ini filmnya yang berjudul 3 (baca: tiga) mulai tayang di bioskop. Padahal tiga bulan sebelumnya (15 Juli lalu), filmnya yang berjudul Comic 8: Casino King juga telah tayang. Perolehan penontonnya pun tidak mengecewakan. Sampai akhir September kemarin, film sekuel bagian pertama itu ditonton lebih dari satu juta dua ratus orang, atau menduduki posisi kedua dalam daftar sepuluh film Indonesia yang paling banyak ditonton tahun ini. Oke lupakan dulu film Comic 8, karena ini waktunya kita bincangkan film terbaru garapan sutradara yang juga memainkan turntable untuk band Purgatory* itu. 


Tiga, pada intinya berkisah tentang akhir zaman. “Sebuah masa depan yang dystopia”, kira-kira demikian Anggy menjelaskan latar kisah di sebuah acara televisi tadi pagi. Akhir zaman yang dimaksud adalah tafsiran sutradara atas literatur agama Islam tentang kondisi saat itu. Sebuah analisa** menggambarkan masa-masa sebelum kiamat itu dengan sejumlah ciri, diantaranya kala itu peperangan kembali lagi ke cara tradisional, tanpa teknologi maju. Dalam film ini, kondisi itu digambarkan dengan peperangan terhadap terorisme tanpa peluru tajam. Aparat hanya boleh menggunakan peluru karet yang fungsinya melumpuhkan. Alasannya jelas dan runut digambarkan di film itu. Pada tahun 2036 itu, hiduplah tiga orang pria bernama Alif (Cornelio Sunny), Herlam atau Lam (Abimana Aryasatya), dan Mimbo atau Mim (Agus Kuncoro). Ketiganya pernah berguru di sebuah sekolah bela diri yang sama. Setelah perguruan itu dibubarkan, di masa depan mereka bertemu lagi dalam posisi dan kepentingan yang berbeda-beda, dan itulah keseruan film ini. “Biasanya buat film itu merekonstruksi: rekonstruksi kisah cinta, rekonstruksi biografi. Tapi ini membangun ide. Jadi susah nyari investor”, ujar Agus Kuncoro tentang film yang dibintanginya ini. Arie Untung akhirnya turun tangan untuk posisi itu. Saya menyimpulkan, ada tiga cara menikmati film ini.

Tonton sampai akhir


Film ini diawali oleh sebuah paragraf yang ditahan tampil cukup lama. Tampak sekali bahwa penonton benar-benar diminta membaca itu sampai tuntas, dan (seperti yang tertulis di sana) menonton film sampai tuntas. Imbauan itu wajar diberikan untuk menghindari penarikan kesimpulan yang terburu-buru agar tidak menghadirkan kontroversi. Penonton film ini pun sebaiknya orang dewasa. Bukan hanya karena ada adegan sadistik, tapi juga agar film ini tidak disalahartikan.

Potensi misinterpretasi memang mungkin terjadi kalau kita nontonnya sepotong-sepotong. Tiga ini kental sekali dengan nilai-nilai agama Islam. Seperti film Mama Cake yang dibuat Anggy tiga tahun lalu, film ini adalah proyek realisasi alam pikirannya tentang agama yang ia anut. Selain kondisi akhir zaman yang merujuk ke perkiraan di atas, nukilan dialognya pun tak lepas dari saduran literatur Islam.

Simak misalnya di pernyataan bahwa pada mulanya agama islam asing, dan di akhir kehidupan manusia, ia akan asing lagi. Itu senada dengan yang ada dalam Hadits Riwayat Muslim. Atau simak pula bagaimana bagaimana Mim memperlakukan Letnan Bima (Donny Alamsyah) dalam pertarungan di rumahnya. Mim menolak menghabisi rivalnya setelah ia diludahi. Itu sebangun dengan kisah Ali bin Abi Thalib di perang khandak. Alkisah Sayyidina Ali berduel dengan Amru bin Abdul Wad. Setelah melewati pertarungan sengit, jagoan suku quraisy itu terpojok dan siap dihabisi keponakan Rasul itu. Namun ia berontak dan meludahi wajah Ali. Ali urung menuntaskan pertarungan karena khawatir niatnya menghabisi sang rival dilakukan karena kemarahan, bukan misi membela agamaTuhannya. Pertarungan Mim-Bima pun, memilik padanannya. Adegan berkelahi memang jadi salah satu andalan di film ini. Maka cara kedua untuk kepuasan maksimal menyaksikan film ini adalah, nikmati adegan pertarungannya.

Nikmati Pertarungannya


Baku pukul yang sarat dan sengit juga ada di film ini, lengkap dengan slow motion yang sudah jadi tanda tangan Anggy sejak film Comic 8, juga kamera memutar ala tampakan di film Mama Cake. Bahkan, adegan perkelahian disajikan sejak kuarter pertama film ini, dalam shot panjang. Ya, dalam sekali rekam, tokoh Alif sang penegak hukum menghabisi satu per satu penjahat dari dasar gedung sampai lantai atas. Persis Iko Uwais di film The Raid dengan tambahan bumbu slow motion.
Rujukan ke film lain dalam adegan baku hantam memang sulit dihindarkan. Dari jurus menghindari peluru ala The Matrix sampai pertarungan kolosal di penjara dalam film The Raid 2, selalu terkait di benak saya. Bahkan kalimat “jadi begini, serang dulu baru bertanya”, mengingatkan saya ke lirik lagu Homicide berjudul Puritan. Tapi toh kata sang maestro lukis Pablo Picasso, good artist copy, great artist steal. Tak ada jalan tengah, dan itu baik-baik saja.
Para tokoh kunci di film ini juga tidak menggunakan stuntman. Kamu mungkin terkejut melihat Laras (Prisia Nasution) menggulingkan penjahat dengan kedua kakinya ala pertarungan gulat di Smack Down. Dan itu memang dia. Simak pula ketika Gendis (Tika Bravani) berjibaku dalam sebuah pertarungan. Ia menolak dimainkan peran pengganti karena sang stuntman ukuran badannya lebih besar, dan Tika tidak mau “dirinya” terlihat besar di layar. Hehe.

Maknai Simbolnya


Ini bagian yang paling saya sukai dari film ini. Banyak sekali makna ambigu dalam sejumlah bagian film. “Bukankah kegamblangan makna adalah musuh utama dalam bersastra?” Demikian Rekti The Sigit pernah berujar dalam sebuah wawancara***. Saya setuju.

Makna tokoh utama
Alif, Lam, Mim adalah bunyi sebuah ayat dalam kitab suci Al Quran. Rangkaian tiga huruf itu tidak (atau belum ditemukan) bermakna. Tapi sang sutradara punya interpretasi sendiri tentang ketiganya. Dalam sebuah acara diskusi ia jabarkan, bahwa alif adalah api, lam angin, dan mim air. Metafora api hidup dalam profesi Alif sebagai penegak hukum, Lam sebagai wartawan yang bak angin, dan Mim nan agamis yang diibaratkan air.  

Kaitannya dengan G30S
Temuan ini baru saya sadari di bagian akhir. Tapi sebenarnya dari awal tanda itu sudah ditampilkan. Penegak hukum atasan Alif di film ini pangkatnya kolonel. Namanya Kolonel Mason. Biasanya, penegak hukum yang dimaksud adalah polisi, artinya pangkat untuk yang di pundaknya ada tiga bunga bukan kolonel, melainkan kombes pol atau komisaris besar polisi. Penggunakan pangkat militer ala TNI ternyata berkaitan dengan sebuah twist di dekat bagian akhir kisah. Selain itu ada juga peran “agen ganda” atau “double agent” dalam intrik itu. Sang penulis skenario (yang merangkap tugas jadi sutradara) tidak mungkin tidak melakukan riset mendalam tentang kejadian di tahun 1965 itu. Kata Anggy, ide ceritanya sudah ada sejak 2 tahun lalu. Oiya satu lagi. Rangkaian perumpamaan tentang rencana pemberontakan itu juga menjelaskan kenapa film ini tayang perdana hari ini, di hari kesaktian pancasila, sehari setelah G30S terjadi 50 tahun lalu.

Perumpamaan Peta Konspirasi Global
Ada sebuah film documenter berjudul Zeitgeist, artinya semangat perang dalam bahasa Jerman. Dalam film itu dijelaskan kenapa kejadian di Amerika Serikat tanggal 11 September 2001 dilakukan, hingga kenapa setelahnya muslim lekat dengan kesan teroris. Nah penjelasan tentang film itu dipersonifikasi oleh film Tiga ini. Dan nama Mason sebagai komandan Alif tentu sudah tidak asing lagi buat penyimak teori konspirasi.

Kata John Lennon, don’t hate what you don’t understand. Petuah itu juga nyata terpampang dalam film empat babak ini. Selama 122 menit durasi film, emosi penonton akan diaduk dengan pemahan yang berbeda-beda berdasarkan banyak paradigma. Pada akhirnya kita akan paham kenapa ada bara di antara ketiga tokoh utama, meskipun kaitannya cukup kompleks. Tapi kompleksitas itu indah, terangkai saling bertautan. Bahkan nampak bisa dibuat sekuelnya.

Saya juga harus ingatkan kamu untuk memperluas sekat logika saat menonton film ini. Dengannya, kita mafhum dengan apapun yang bisa terjadi 21 tahun dari sekarang, termasuk merokok di bawah guyuran hujan yang absurd jika terjadi pada masa ini. Atau tembakan yang tidak mematikan meski dilakukan dengan peluru karet dari jarak dekat. Selamat menonton Tiga.

*Penata music dalam film ini adalah AL, bassis Purgatory. Ia bercameo sebagai salah seorang santri di pondok pesantren Al Ikhlash. Sang sutradara juga tak ketinggalan untuk bercameo. Sebagai apa? Tonton sampai akhir. Hehe. Credit song di film ini adalah lagu Purgatory berjudul A Repetence yang dicomot dari album Beauty Lies Beneath (2011).
 ***http://kita.kompas.com/tokoh/detail/173/the.sigit (saya ingat di versi cetak ada kutipan itu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *