Andy Noya

Leonardo Kamilius, cuma butuh satu buku untuk menggerakkan niatnya membantu masyarakat yang membutuhkan modal usaha di utara Jakarta: Banker to the Poor (Muhammad Yunus, 2006). Aang Permana, juga menyebut satu buku yang membuatnya bulat meninggalkan pekerjaan sebagai peneliti dan membuka usaha pengolahan ikan: Mereka Bilang Saya Gila (Bob Sadino, 2008). Setelah membaca Andy Noya: Kisah Hidupku (Adhi KSP & Andy F. Noya), saya merasa menemukan sebuah buku yang posisinya seperti dua buku di atas: meneguhkan tekad—dalam kasus saya, menjadi wartawan.

Kenapa buku ini sedemikian penting? Pertama, “Kisah Hidupku” mengupas tuntas masa lalu wartawan yang bersinar dengan program Kick Andy-nya itu. Tuturannya kronologis, dimulai dari masa kecilnya di Surabaya, hingga kiprah jurnalistik teranyarnya dan Kick Andy Foundation. Paparan kisahnya pun detil. Tiap bab (dalam buku ada 11 “bagian”) tersusun dari 4 hingga belasan subbab. Di dalam turunan bab itulah terungkap bahwa karier kewartawanan Andy bermula dari rangkaian pengalaman yang bukan cuma sudah digariskan, tapi diupayakan.

Andy lahir dari sebuah keluarga yang terpisah. Ibunya di Surabaya, sang ayah di Jayapura. Kehidupan di ibu kota Jawa Timur itu penuh perjuangan. Keluarga kecil itu harus tinggal di sebuah garasi. Belum lagi kakak Andy kena polio. Mata Andy pernah juling. Pergaulannya di sana pun menyesatkan hingga ia sempat disebut-sebut akan jadi penjahat. Sampai kemudian ia pindah ke Malang sebelum hijrah lagi ke Jayapura. Di kota pusat provinsi Papua itu, Andy menghabiskan masa remaja. Di era ini pula kenangannya bersama sang ayah terbentuk. Dalam sebuah edisi Kick Andy, pria kelahiran tahun 1960 ini pernah terbawa emosi ketika seorang narasumber berkisah tentang ayahnya. Buku ini menjelaskan alasan di balik kejadian itu.

Dari buku setebal lebih dari 400 halaman ini, saya menandai sejumlah hal. Selain simpulan dari sebuah kisah, halaman yang memuat data dan fakta tentang beberapa kejadian juga menarik untuk ditandai. Misalnya kisah-kisah ludruk yang sering Andy saksikan. Dari Lutung Kasarung, hingga Sam Pek-Eng Tay. Ada juga informasi tentang kasus cessie Bank Bali. Hal lain yang juga saya anggap penting, adalah pengalaman Andy sebagai wartawan. Berkat kegigihannya memperoleh keterangan seorang narasumber, ia kerap mendapat kesempatan mewawancarai narasumber A1. Lim Sioe Liong misalnya. Ketika itu konglomerat dengan nama lain Sudono Salim ini sangat tertutup kepada pers. Maka wajar kalau kesempatannya mewawancara menjadi kebanggaan tersendiri. Dalam hal perolehan narasumber, Andy juga mengaku gigih. Ketika turut serta dalam proyek buku Apa dan Siapa—yang kemudian jadi pijakan karir pertamanya sebagai wartawan—ia mendapat kredit khusus karena mewawancarai lebih banyak narasumber. Di awal masa kewartawanannya pula, Andy sudah berkomitmen menolak pemberian dari narasumber. Raihan-raihan semacam itulah yang lalu mengantarkannya ke anak tangga karir jurnalistik yang lebih tinggi, bahkan menjadi pemimpin redaksi.

Dari pengalamannya sebagai pemimpin redaksi, ada beberapa kisah yang saya tandai. Suatu saat ketika memimpin Seputar Indonesia, ia memperjuangkan penayangan siaran langsung dengan durasi lebih panjang. Andy harus berdebat sengit dengan jajaran direksi demi izin itu. Permintaannya kemudian dikabulkan, dan tim pimpinannya mengalahkan program saingan di stasiun TV lain. Sebagai pemimpin redaksi, Andy juga harus mempertimbangkan keamanan tim lapangannya. Kisah mendebarkan itulah yang digambarkan ketika tim liputan RCTI harus diselamatkan dari amukan massa pro-kemerdekaan Timor Timur. Ketika memimpin Metro TV, ia juga menampakkan ketegasan dengan memecat reporter yang menolak memakai dasi.

Buku ini enak dibaca. Rasanya saya seperti menyaksikan program Kick Andy, karena banyolan khas dari tayangan itu tetap ada. Tengok halaman 213 ketika ia berkisah tentang pacar yang kemudian jadi istrinya. Ada kalimat dalam tanda kurung “maaf agak lebay supaya istriku senang membaca tulisan ini.” Meski begitu, biografi rilisan 2015 ini bukan berarti tanpa cela. Sebuah resensi yang saya baca di situs Penerbit Buku Kompas lebih jeli menyampaikan koreksi lebih tajam. Jadi, jika ini buku yang (sekali lagi) meneguhkan tekad saya menjadi wartawan, buku apa yang menggerakkan Kamu? []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *