Bana

Belantara internet raya mengantarkan saya ke sebuah nama: Arlian Buana alias Bana. Bukunya berjudul Merry Christmas Felix Siauw. Bisa didownload gratis. Berupa file pdf. Buatan tahun 2012. Buku lama. Tapi gapapalah saya baca juga. Biar plong pas bersihin folder downloads. Tebalnya seratus sekian halaman. Isinya tentang dirinya sendiri dan sejumlah topik pemberitaan nasional. Lantas kenapa bawa-bawa nama Felix Siauw?

Saya bacanya skimming. Di bagian awal, Bana memperkenalkan dirinya sebagai alumni sebuah pesantren—yang juga pernah jadi tempat cendekiawan muslim Komarudin Hidayat mondok. Penulis kemudian kuliah di tempat Komarudin Hidayat jadi rector: UIN Syarif Hidayatullah. Dari situlah dia kemudian bercerita tentang pergaulannya. Dari Putut EA sampai Ariel Noah. Selanjutnya, Bana bahas beberapa topic berdasarkan pengalaman dan paradigma pribadinya. Contoh, soal PKI dan Yahudi. Dia bertanya (ke Bapaknya): “mengapa orang kita tidak membenci Belanda dan Jepang? Mengapa kita lebih membenci PKI dan Yahudi?”

Dengan bahasa ringan ala tulisan mojok.co—salah satu artikelnya juga dikutip—Bana sebenarnya sedang menjelaskan tentang buku John Roosa: Dalih Pembunuhan Massal, film Pengkhianatan G/30/S/PKI, sampai menganalogikan peristiwa itu dengan alur kisah film Game of Thrones. Jawaban pertanyaan di atas, ternyata pertanyaan juga:

“mengapa kita harus memendam kebencian? Untuk apa kita membenci dan bermusuhan, demi siapa?” (hal. 63)

Tapi yang asik dari tulisan geng mojok macam Bana ini, gaya penyampaian opini melalui satir. Contohnya di judul “Menjadi Muslim Pintar bersama Palu-Arit”. Ketika dia menulis:

“Beberapa waktu sebelumnya, pernah pula PKS-P menunjukkan kecerdasan yang jenuin tiada banding. Kira-kira dia mencuit begini: Lihat dong, PKS-P mendapat kunjungan lebih dari empat juta sehari tapi servernya tidak pernah down. Luar biasa. Saya kehabisan kata-kata.” (hal. 114-115)

Fakta-fakta berikutnya setelah paragraf itu, tentu saja menyanggah impresi “luar biasa” dan “kehabisan kata-kata”. Itulah tulisan satir. Inti gagasannya, merujuk ke aksi Gus Dur soal isu ini:

“Maka lihatlah, Gus, jangankan mengobati luka, melihat simbol palu-arit saja kami masih parno. Kami kesulitan bersikap adil, Gus, karena kami lebih senang merawat kebencian seperti hobi kami mengasah batu akik.” (hal. 117)

Felilx Siauw-nya mana? Ada di tulisan berjudul “Menjadi Penggemar Berat Felix Siauw”. Di situ tertulis:

“Berkat perjuangan Ustadz Siauw, Al Quran dan Sunnah telah jadi hukum di negara kita. Indonesia secara resmi sudah menerapkan Khilafah Islamiyah sebagai sistem pemerintahan.” (hal. 121)

Ciri bahwa puja-puji penulis terhadap Siauw berupa satir, ada di kalimat terakhir: “Babi, Nody Arizona membangunkan saya dari mimpi.” Dan pembahasan Felix Siauw tidak berhenti di sana. Masih ada judul lain yang bisa bikin “pengikut” Felix di media sosial blingsatan. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *