Gaza

Biasanya, saya melanggan sebuah rubrik di harian Kompas hari Minggu. Namanya Kredensial. Penulisnya Trias Kuncahyono, Wakil Pemimpin Redaksi Koran Kompas. Sesuai dengan judul rubrik itu (yang berarti surat kepercayaan diplomatik), isinya selalu tentang isu hubungan internasional. Pak Trias biasa menyitir sebuah kisah dari masa lalu, kemudian menautkannya dengan peristiwa terkini dalam sebuah garis penghubung. Saya selalu kagum dengan rentang bacaan penulis, yang tercermin dari gagasannya. Pasti dia pelahap buku yang rakus. Sayangnya, rubrik itu sudah tidak ada lagi sejak sekitar dua bulan lalu. Entah kenapa. Mungkin Pak Trias harus fokus ke pekerjaan manajerial di ruang redaksi.

Jejak kepakaran Trias di bidang hubungan internasional, bisa ditarik dari tahun 1983, sejak ia jadi sarjana jurusan HI UGM. Sampai sekarang, buku-buku tentang relasi antarnegara masih ditulisnya. Misalnya, awal tahun 2018 ini dirilis buku Turki: Revolusi Tak Pernah Henti. Saya tertarik buat baca, tapi menahan diri sebelum tamatkan dulu buku Trias lain yang sudah lebih dulu dibeli. Yang pertama, judulnya Jalur Gaza: Tanah Terjanji, Intifada, dan Pembersihan Etnis.

Jalur Gaza ini buku keenam yang ditulis Trias. Pijakan penulisannya, berdasarkan perjalanan jurnalistik ke Palestina pada akhir tahun 2008 hingga awal Januari 2009. Ketika itu, Israel sedang gencar menyerang wilayah Gaza Palestina. Kisah dalam buku ini, dimulai dari perjalanan Trias dan rekannya Mustafa Abd Rahman ke kota El Arish di perbatasan Mesir dan Palestina. Dari sana mereka bertemu banyak orang yang menggambarkan suasana invasi Jalur Gaza oleh Israel. Kesengsaraan itu, kemudian dilengkapi dengan konteks konflik Palestina-Israel. Sejak era prasejarah.

Informasi tentang sejarah Gaza, ditulis Trias dari banyak literatur. Untuk satu informasi pun tak jarang ia menyertakan lebih dari satu sumber. Misalnya soal sejarah nama Gaza. Di halaman 115 dituliskan bahwa menurut Zev Vilnay, berasal dari bahasa arab Gazza, yang artinya kuat. Menurut Mariam Shahin, Gaza berasal dari Ghazzat, sebutan orang Mesir Kuno bermakna “kota yang paling berharga”.

Seperti halnya tulisan di rubrik Kredensial, buku ini juga menampilkan ciri khas Trias, yang menghadirkan informasi dari masa lalu. Sejauh yang ia bisa telusuri. Data itulah yang kemudian diaktualisasi. Sebut saja paparan tentang kisah Samson dan Delilah dari kitab Hakim-hakim Bab 16. Di halaman 114, disebutkan bahwa superioritas Samson itulah yang jadi salah satu pendorong orang Israel memerangi bangsa Filistin. Belakangan, melalui halaman 116 kita akan tahu bahwa bangsa Filistin yang dikisahkan musuh Samson, sebetulnya satu dari sejumlah suku bangsa yang mendiami daerah pesisir—yang kemudian diberi nama Pleshet oleh orang Yunani.

“Akibat selalu diperebutkan dan dijajah, komposisi penduduk Gaza dan wilayah Yudea selalu berubah-ubah, tergantung siapa yang berkuasa di kota dan wilayah itu. Para penguasa di wilayah itu juga tidak segan-segan mengusir penduduk asli dan mengganti nama wilayah itu.” (hal. 117)

Lantas apa yang ditawarkan penulis terhadap konflik di wilayah Gaza? Trias menuliskan bahwa perlu ada pro-eksistensi. “Israel dan Palestina tak harus sepakat tentang masa lalu, tetapi keduanya harus sepakat tentang masa depan yang adil dan damai. Keduanya harus mengakui eksistensi masing-masing sebagai negara berdaulat.” (hal. 296) []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *