Grohl

Kamis minggu lalu, Foo Fighters merilis video musik/ dokumenter tentang dave grohl selama 30 menit. Delapan menit awal video itu bercerita tentang 22 menit performa musik yang akan dia tampilkan. Dia lalu mengenalkan anak-anak dari sebuah studio musik bernama Join The Band. Di studio berumur 20 tahun itulah anak Dave belajar main musik. Dia juga mewawancarai pemilik studio dan anak-anak didiknya. Dari perbincangan itu, Dave kemudian merasa melakukan hal yang sama. Memperbaiki diri, mencoba hal baru yang belum pernah dia lakukan. Salah satunya, merekam lagu sepanjang sekitar 23 menit dengan 7 instrumen yang dia mainkan sendiri secara live recording. Jadilah: Play.

Kalau dipecah, lagu Play menurut saya setidaknya bisa jadi tiga sub lagu. Judul pertama bisa ada di interval menit ke-9 sampai 19:11. Potongan kedua di rentang 19:12-23:27. Nah sisanya, masih di hitungan satu sub lagu, meskipun ada bagian melambat jelang akhir durasi. Yang menarik, intro paruh ketiga lagu ini, rasanya mirip intro lagu Smells Like Teen Spirit milik Nirvana.

Dave Grohl memang alumni trio Nirvana, sebagai penggebuk drum. Akhir-akhir ini, saya lagi baca lagi biografi Kurt Cobain, vokalis Nirvana yang meninggal tahun 1994 karena bunuh diri. Di biografi berjudul Heavier Than Heaven itu—dicomot dari nama salah satu tur promo album Nirvana di awal karir—ada kisah tentang pertama kali Dave masuk Nirvana.

Dalam bab berjudul Love You So Much, dikisahkan bahwa kala itu (Mei-Desember 1990), Nirvana gonta-ganti drummer. Dari Chad Channing sampai Dan Peters. Mereka nggak betah di Nirvana karena tabiat gitaris bandnya yang destruktif.

“Sudah menjadi hal umum bagi Kurt saat itu untuk menerjang drum Chad..Di Boston, Kurt malah sempat melemparkan satu teko kaca penuh air ke arah Chad, yang untung saja meleset beberapa inci dari kupingnya.” (hal. 215)

“Show itu menjadi show Dan Peters yang pertama dan terakhir bersama Nirvana meski saat itu dia bermain amat baik. Pendatang baru itu bernama Dave Grohl, 21 tahun, yang aslinya berasal dari Virginia.” (hal. 227)

Buku  Heavier Than Heaven belum khatam lagi saya baca. Sebelum ini, saya khatamkan biografi karangan Charles R. Cross ini tahun 2007 atau 2008. Barangkali kalau dibaca dengan bekal pengalaman dan pengetahuan di usia yang lebih tua 10 tahunan, ada persepsi lain yang muncul dari bacaan satu ini. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *