Menilai Entrok dan 86

Saya baru khatamkan dua buku novel buatan Okky Madasari: Entrok dan 86. Sebenarnya kedua novel itu sudah saya beli sejak lama. Entrok keluaran 2010, saya beli dua tahunan lalu, sementara 86 sekitar setahun setelahnya. Tapi baru kali ini saya punya mood buat menamatkannya. Lalu saya punya kesan tersendiri setelah dua buku itu habis dilahap. Inilah beberapa hal yang ingin saya bagi tentang kedua novel itu.




EntrokEntrok adalah beha, kutang. Sampulnya bergambar kartun tampakan punggung seseorang menggunakan entrok. Tapi hati-hati, jangan terkecoh dengan sampul dan judul, karena Entrok bukan hanya soal kutang dan hal yang berkaitan dengannya. Jauh dari itu, Entrok menjangkau banyak topik bahasan, dari politik represi ala orde baru, feminisme, dialektika toleransi agama lokal, hingga konflik agraria. Entrok berkisah tentang Sumarni dan anaknya, Rahayu. Sumarni adalah seorang buta huruf yang semula miskin dan berjuang menggapai kebahagian hidup di tengah kondisi masyarakat sekitar yang memandangnya sebelah mata, karena ia masih menganut agama lokal. Perlakuan diskriminatif, malangnya juga dilakukan anaknya, Rahayu. Rahayu yang dikisahkan pintar di sekolah ketika kecil, memilih untuk meninggalkan ibunya yang “kafir” ketika dewasa. 

Dua wanita yang terikat hubungan darah itu pun menjalani hidup dengan konsekuensi pilihannya masing-masing, dengan liku konflik yang seakan menyentil kehidupan realita yang bukan tak mungkin masih berlaku kini, meskipun latar di novel berkisar antara tahun 1950-an hingga 1999. Yang juga menarik dari novel ini adalah, sudut pandang penceritaan yang dipaparkan dari dua mata. Pada satu bab kata “aku” akan berarti Sumarni, sementara di bab berikutnya “aku” adalah Rahayu. Dua kisah itu kemudian saling pilin dalam sebuah latar waktu linier, memaparkan ngerinya represi era orde baru, kejamnya intoleransi, dan hubungan ibu-anak yang mengharukan. Yang juga indah dari Entrok, adalah alurnya yang dibuat seakan berbentuk sirkular, menyerupai siklus. Bab pertama adalah akhir, sementara bab di akhir halaman akan memancing pembaca membuka lagi bab pertama, hingga di kalimat akhir paragraf bab pembuka itu, pembaca akan dihantarkan dengan sebuah sambutan hangat: “begini ceritanya”.

86
Okky Madasari dalam novel 86 memaparkan boroknya birokrasi kita, utamanya di kalangan penegak hukum. Novel yang terbit setahun setelah Entrok ini bercerita tentang Arimbi, seorang juru ketik di sebuah kejaksaan di Jakarta. Ia yang berasal dari desa, mendaki kemakmuran yang diimpikannya sejak lama. Namun, ia tergoda mengejarnya dengan cara yang lazim dilakukan orang di kalangan kejaksaan kala itu: bermain uang suap. Sebenarnya 86 ini kurang memuaskan dibanding Entrok. Gaya penuturannya tak seeksperimental Entrok. Meski demikian, 86 berhasil menggambarkan dengan detil, kira-kira apa yang akan terjadi jika seseorang terjerumus dalam sebuah tindak jahat korupsi. Membaca 86, bagi saya rasanya seperti menonton film Kita VS Korupsi dan film Sebelum Pagi Terulang Kembali.

Dari dua novel Okky di atas, saya pun menarik simpulan umum bahwa Okky Madasari adalah novelis dengan setidaknya tiga nyawa utama: kisah rakyat kecil dari desa, penganut kepercayaan lokal dan negara kita yang tak sempurna (kalau keberatan disebut amburadul). Setelah ini, saya tertarik untuk lahap juga novel-novel Okky berikutnya. Embel-embel pemenang penghargaan Khatulistiwa Literary Award, membuat saya penasaran dengan kisah lain yang ia kemas. []

25 Replies to “Menilai Entrok dan 86”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *