Pengalaman Baru Dari Membaca Novel O

“Jangan-jangan dulu kita pasangan kecoak,” saya berkelakar ke Windi. “Jangan-jangan aku dulu kecoak yang namanya Rheza lalu mati dan jadi manusia”. Istri saya itu spontan mengerlingkan mata, menunjukkan ekspresi bermakna “yang bener aja!”

Alternatif pemikiran demikian saya pungut dari novel buatan Eka Kurniawan berjudul O. Buku berjudul satu huruf itu berkisah tentang seorang monyet bernama Entang Kosasih yang sesumbar ingin menjadi manusia. Monyet tunangannya, O, menyusul sang kekasih yang ia percayai telah mewujud menjadi seorang kaisar dangdut. O berusaha menjadi manusia pula dan menagih janji calon suaminya untuk menikah pada bulan ke sepuluh.

Meski sedemikian sederhana, tuturan kisah yang dipaparkan dalam novel setebal 470 halaman ini sungguh kompleks. Banyak sekali tokoh di dalamnya. Dari pawang topeng monyet bernama Betalumur, anjing Kirik, pasangan polisi Joni Simbolon dan Sobar, ular sanca Boboh, dan banyak nama lain yang bukan cuma hadir sekelebat. Peran dan sejarah mereka didedahkan dalam 16 bab. Menariknya, pemenggalan bab dan subbab di dalamnya tidak kronologis dan seakan tidak koheren. Setelah menyimak kisah tentang si bocah Uyung misalnya, kita akan dihadapkan ke kisah Dara yang jadi cemceman polisi Sobar. Padahal cerita tentang Dara tidak berkaitan dengan kejadian yang menimpa Uyung. Meski begitu, toh pada akhirnya pembaca akan memandang sebuah alur secara holistik. Inilah pengalaman baru membaca novel yang ditawarkan O.

Selain memahami sebuah cerita dengan teknik yang unik, novel O juga berisi kritikan tentang berbagai hal. Dari konsep samsara (siklus hidup dan mati), kritik terhadap pemerintahan orde baru, pemaknaan ulang konsep cinta monyet, hingga satir tentang kehidupan manusia urban.

Semua manusia dan binatang dan benda-benda dan kenangan dan harapan berebut untuk hidup di kota ini. Mereka hanya perlu saling memakan. (hal. 42)

Sinisme tentang kredo homo homini lupus (seorang manusia adalah serigala bagi manusia lainnya) juga tampak di kutipan berikut ini:

“Saudaraku,” kata si pawang kepada para penonton. “Begitulah umat manusia di zaman sekarang, seperti dipertunjukkan oleh monyet-monyetku. Kita akan menindas manusia yang lain, secepat kesempatan itu datang.” (hal. 280)


Bagian Terbaik
Dari seluruh naskah buku kelima Eka Kurniawan ini, yang paling saya suka Bab 12. Di bagian ini ketegangan pelampiasan dendam Rudi Gudel atas kematian Jarwo Edan berselang-seling dengan kisah tentang orang-orang yang ada di kondisi itu. Selain keseluruhan bab ini, yang paling saya suka dari O adalah sensasi kepikiran tentang konsep moksa. Di dalam O memang nggak ada istilah moksa sih, tapi penemuan terhadap kata itu dan maknanya, membuat saya mengingat O sebagai sebuah novel yang seakan menginformasikan bahwa ada kepercayaan tentang mati yang juga disertai dengan lenyapnya jasad. Dan itu pernah dipercaya ada oleh masyarakat dahulu.

Soal hal yang mengganjal, barangkali saya perlu merujuk ke sebuah adegan di halaman 341. Di sana dikisahkan Rosalina membantu Entang Kosasih menghajar preman. Dalam imaji saya, itu terkesan klise. Terlalu sinetron aja gitu. Penggunaan istilah sinetron barangkali berlebihan, terutama merujuk ke bagian akhir novel yang tidak berujung semudah ditebak itu. Bukankah penutup yang sedikit menggantung selalu lebih terasa mengesankan? []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *