Semiotika

Saya datang ke Spasial sekitar jam 19:45 hari Minggu lalu. Tadinya, saya malah akan hadir di sana sejak jam 16, sebelum akhirnya tahu bahwa Semiotika naik panggung jam 20. Band post-rock asal Jambi itu lagi sering saya dengar. Makanya pas mereka mampir ke Bandung dalam rangkaian tur pra-acara Soundrenaline, saya sempatkan nonton langsung. Biar merasakan musik mereka secara lebih hidup.
Trio Bibing-Riri-Gembol langsung membunyikan instrumen begitu set alat mereka siap. Tanpa perkenalan, tanpa judul lagu.
“Soalnya kita juga kebanyakan kalau live pun kadang-kadang jarang bilang ini lagu apa,” Bibing sempat jawab pertanyaan saya soal judul lagu. Setelah mereka tampil. “Kita nutupin mata, terserah kalian mau gimana, kalian mau moodnya gimana pas degerin musik kita, terserah. Jadi judul-judul itu ya itu dari kita, dari sudut pandang kita.”
Sejak dibentuk tahun 2014, Semiotika sudah buat satu album berjudul Ruang (2015) dan satu minialbum Gelombang Darat (2018). Menariknya, lagu pertama yang mereka rekam ada di minialbum yang dirilis empat tahun kemudian. Judulnya Delusi. “Aransemennya susah.” Kata Bibing soal lagu ketiga yang mereka bawakan juga di Bandung malam itu. Dalam penampilan itu pula, Bibing mengaku bahwa mereka bahagia bisa sepanggung dengan Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS), band post-rock bentukan 2007. Katanya di atas panggung, kalau UTBBYS nggak ada, Semiotika nggak ada juga.
“Aku suka emang kayak instrumental, dari dulu aku suka. Bang Riri ngasih suasana baru. Jadi pas di kedai itu—Bibing dan Gembol mengelola sebuah kedai—kan dari siang sampe malem kan dengerin semua lagu. Cuma yang pasti pas malem-malem, kita lagi beres-beres, nyuci piring, buat mie, itu dengerinnya kebanyakan Under (The Big Bright Yellow Sun), Explosions (In The Sky). Ini band mana ya? Band bandung. Anjir keren. Jadi kayak, pas udah bosen gitu, abis gawean di kedai, ‘ayo ngejam’. Padahal ada band-band sendiri. Gembol ada band hardcore, Riri ada band dub-ska”
Waktu saya dan Bibing bicara soal band yang menginspirasi mereka, saat itu pula obrolan kami terpotong. Didi sang pencabik bass UTBBYS pamit pulang.
“Sukses, sukses!” kata Didi singkat setelah bertanya sampai kapan Semiotika di Bandung.
“Kang. Nuhun. Nuhun nya.” Bibing berbahasa Sunda dengan logat khas orang Sumatera.
“Edankeun!” kata Didi. Bibing membalas dengan meneriakkan kata yang sama. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *